Cara Belajar Fisika

Tujuan pemberian mata pelajaran fisika sebagai mana tercantum dalam GBPP fisika SMP menguasai konsep fisika. Diharapkan siswa mampu menggunakan metode ilmiah yang dilandasi sikap ilmiah untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapinya. Sehingga lebih menyadari kebesaran dan kekuasan penciptaNya.

Dalam mempelajari fisika di sekolah sering sekali diucapkan oleh siswa bahwa pelajaran fisika itu sukar. Bisa dikatakan bahwa keadaan ini memang benar, namun dibalik kata sukar itu tersembunyi makna bahwa menguasai pelajaran fisika itu memerlukan pengorbanan yang cukup besar. Hanya siswa yang benar-benar memiliki bakat, minat dan kemampuan untuk mempelajari fisika yang mengatakan tidak demikian.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan fisika itu sukar, diantaranya: a) faktor guru, b) faktor siswa, dan c) faktor tingkat/derajat kesulitan materi fisika itu sendiri (Hariyadi, 1999).
a. Faktor Guru. Peranan guru dalam penyampaian materi pelajaran fisika cukup dominan dan menentukan. Guru fisika paling tidak haruslah memiliki bekal pengetahuan dan ketrampilan yang memadai dalam menyajikan olahan materi pelajaran fisika, diantaranya:
1. Penguasaan materi
2. Pemahaman tujuan-tujuan pendidikan dan institusional
3. Pemahaman dan trampil dalam menganalisis program pengajaran sesuai dengan GBPP nya.
4. Menguasai dan mampu menyajikan satuan pelajaran yang lengkap dengan, metode penyajian, literatur serta alat bantu pendidikan, alat peraga serta alat pemecahan masalah dan pemahaman teori-teorinya.
5. Menyelidiki bekal kemampuan pendalaman filosofis dan inti permasalahan tersebut.
6. Mampu menarik dan memberikan nilai kreasi dan inovasi yang berkaitan dengan penilaian dan pengembangan ilmu tersebut sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan alam.
7. Memiliki reformance guna membawakan hasil olahan ilmu fisika sehingga menarik dan mempunyai daya inovasi yang kuat dan tidak menjemukan ataupun menimbulkan anggapan bahwa fisika itu sukar.
8. The last but not least adalah bahwa seorang guru harus mampu mengukur, menilai, menganalisis peserta didik dan akhirnya mengevaluasinya dengan instrumen evaluasi yang tepat dan lengkap.
b. Faktor siswa. Selain faktor guru, ada beberapa faktor yang diharapkan oleh siswa, diantaranya:
1. Dalam belajar seorang siswa haruslah dapat mengenali dan memahami dirinya dalam hal: minat dan niat; bakat dan ketrampilan serta kemampuannya.
2. Para siswa harus memiliki bekal mental dan kesadaran percaya diri dan sikap kedewasaan, loyal serta dapat menerima yang ada sebagai resiko akibat ketulus iklasannya dalam menuntut program studinya.
3. Para siswa diharapkan pula untuk selalu aktif, termasuk memiliki program, pleaning, serta penjadwalan dan disiplin belajarnya. Disamping itu selalu siap mengevaluasi kegiatan belajarnya setiap saat.
c. Faktor derajat kesukaran materi pelajaran. Pelajaran fisika sendiri sebenarnya sangat relatif. Hal ini tergantung sejauh mana adanya titik temu yang serasi antara guru dengan siswa.
Dalam mempelajari fisika ada tiga unsur yang sangat saling terkait didalam pengertian fisika, yaitu: hasil ilmu, proses berfikir dan sikap yang mendasari kemajuan ilmu (sikap ilmiah). Sebagai hasil ilmu, kedalaman menyerap maeri, siswa sangatlah dipengaruhi oleh pendekatan yang digunakan oleh guru. Dan keberhasilan prestasi yang dicapai oleh siswa tidak hanya dilihat dari hasil tes akhir yang diberikan. Menurut Bloom (1981) keberhasilan belajar itu dilihat dari tiga aspek diantaranya: domain kognitif, affectif dan psikomotor terhadap materi yang diajarkan.
Pendekatan guru dalam penyampaian materi pelajaran kepada siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara. Cara belajar siswa aktif merupakan pendekatan yang mengarah pada proses belajar mengajar yang mandiri. Dimana keterlibatan mental yang optimal, berarti peningkatan motivasi yang optimal pula pada diri siswa untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajarnya. Motivasi belajar fisika merupakan kekuatan yang mendorong dan atau yang menarik, sehingga siswa dengan kemauannya sendiri mau belajar atau mau melibatkan diri dalam kegiatan belajar mengajarnya. (Budi, 1999). Dengan demikian diharapkan, siswa akan lebih bisa berinteraksi secara positif dengan objek yang dipelajarinya, yang dalam hal ini adalah mata pelajaran fisika.
Menurut pendapat Djohar (1985) seperti yang dikutip oleh Sumaji (1997), bahwa pada hakekatnya mengajar LPA bukanlah usaha menciptakan interaksi langsung antara guru dengan siswa. Tetapi justru menciptakan interaksi antara siswa dengan objek belajar. Kedudukan siswa dalam kegiatan belajar mengajar menurut Djohar (1995) dapat diarahkan dua sasaran, yaitu:
1. Kedudukan siswa dalam kesatuan sistem proses belajar mengajar.
2. Kedudukan siswa dalam arti status perkembangannya, dalam segi mental, fisik, sosial dan emosional.
Kedudukan siswa dalam kesatuan sistem proses belajar mengajar fisika adalah sebagai subjek belajar. Artinya dalam setiap proses belajar mengajar, siswa haruslah mengambil peran yang aktif. Kedudukan siswa dalam arti status perkembangannya menurut Sorochan dan Bender (1995) bahwa keberhasilan akademik bahkan kualitas seseorang sangat ditentukan oleh perkembangan awalnya dalam hal keterampilan motorik, emosional fisik dan ketrampilan sosialnya. Berkembangnya unsur-unsur emosional fisik dan sosial pada perkembangan menentukan keberhasilan dan kegagalan akademik lebih lanjut (Sumaji, 1997).
Kemampuan awal merupakan kemampuan yang menjadi dasar seseorang anak dalam mempelajari sesuatu pelajaran baru. Ed Vn den Berg (1995) mengatakan bahwa sebelum memasuki pokok bahasan baru, siswa harus sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan topik yang baru. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan hubungan antara rangsangan yang berupa materi dengan respon yang berupa kesiapan belajar (Berg, 1995).
Dengan semakin tinggi tingkat keterlibatan siswa secara emosional, proses belajar mengajarnyapun semakin tinggi pula. Ini berarti proses belajarnya berlangsung dengan baik (Hudoyo, 1986). Masalah yang dihadapi guru sekarang adalah keanekaragaman siswa baik ditinjau dari kemampuan, minat maupun latar belakang sosialnya. Sebagai konsekuensinya guru harus berupaya menyampaikan pelajaran dengan sebaik-bainkya, sesuai dengan keadaan siswa.

Posted on 21 Juli 2011, in Fisika and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: